Rusia Diduga Retas 70 Situs Pemerintah Ukraina : Ancaman Perang Terbuka Makin Berpotensi

- 14 Januari 2022, 21:38 WIB
Ilustarasi konflik memanas di perbatasan Rusia - Ukraina
Ilustarasi konflik memanas di perbatasan Rusia - Ukraina /Pixabay/Pexels

MEDIA PAKUAN - Ukraina dalam keadaan darurat setelah penyerangan internet besar-besaran terhadap situs-situs pemerintahannya.


Penyerangan siber itu terjadi  beberapa jam setelah pertemuan antara Rusia dan negara-negara Barat, berakhir tanpa kesepakatan.

Dilansir dari Reuters, 14 januari 2022, para pejabat Ukraina sedang menyelidiki serangan siber ini,  meskipun mereka menghindari menuduh Moskow secara langsung.
 
Hanya saja mereka menjelaskan bahwa Rusia dicurigai di balik serangan itu.
 

Dalam peretasan di situs pemerintah tersebut tertulis pengumuman dalam bahasa Ukraina, Rusia, dan Polandia
 
 

"Ukraina! Semua data pribadi Anda telah diunggah ke jaringan publik. Semua data di komputer telah dihancurkan, tidak mungkin untuk memulihkannya," kata nya.

Keadaan tersebut membuat meningkatnya kekhawatiran rakyat Ukraina, mengingat sebanyak 100.000 pasukan Rusia sudah berada di perbatasan negara itu.

Rusia menyangkal rencana untuk menyerang Ukraina, tetapi mengatakan akan mengambil tindakan militer jika tuntutannya tidak dipenuhi.
 
 
 
Termasuk kepada aliansi NATO untuk tidak pernah mengakui Kyiv.

Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan pada hari Jumat bahwa Rusia berharap pembicaraan keamanan dengan Amerika Serikat akan dilanjutkan, tetapi ini akan tergantung pada tanggapan Washington terhadap proposal Moskow.
 

Lavrov mengatakan "Langkah-langkah menyebarkan perangkat keras militer, itu jelas. Ketika kami mengambil keputusan dengan perangkat keras militer, kami memahami apa yang kami maksud dan apa yang kami persiapkan sebenarnya," tegasnya.

Diplomat Uni Eropa, Josep Borrell, mengutuk serangan itu dan mengatakan komite politik dan keamanan Uni Eropa dan unit cyber akan bertemu untuk membantu Kyiv: "Saya tidak bisa menuduh pihak manapun karena saya tidak punya bukti, tapi kita bisa menduganya." *** 

Editor: Ahmad R

Sumber: Reuters


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network